Menghakimi diri dan Orang Lain
pada tanggal 4 Februari kemarin saya menyaksikan Kick Andy. Pada sesi kali ini Josh Pieter dihadirkan sebagai bintang tamu. Josh Pieter didatangkan sebagai salah seorang anak yang dilecehkan secara seksual oleh orang terdekatnya. Pembahasan berlanjut dari Josh, Psikolog, dan ibunda dari Josh. Ada salah satu pernyataan menarik yang saya dengar dari Ibunda Josh. Beliau mengatakan bahwa penghakiman itu berasal dari Tuhan. Beliau sendiri menyadari bahwa dirinya banyak kekurangan jadi beliau pun tidak berhak menghakimi anaknya. Bagaimanapun juga Josh adalah anaknya. terlepas dari sikap buruk Josh yang jatuh bangun di dalam seks bebas dan narkoba, Josh tetap adalah putranya.
Apa yang dikatakan oleh Beliau sungguh amat sangat menyentuh. Kasihnya sangat besar dan tanpa pamrih buat Josh, putranya tercinta. Pernyataan bahwa dirinya juga memiliki banyak kekurangan pun bisa menjadi teladan bagi kita semua. Kita seharusnya menyadari bahwa masing-masing dari kita memiliki kekurangan dan kelebihan. Kesalahan yang kita perbuat pun tidak terhitung jumlahnya. Jadi, pantaskah kita menghakimi orang lain? Sucikah kita dibandingkan dia?
Aku juga sedang membaca buku yang berjudul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. di dalam buku ini ada cerita dimana dua orang tukang bangunan terheran-heran ketika pemilik bangunan menyatakan tembok yang mereka hasilkan bagus jadinya. Bagi mereka tembok itu sangat jelek karena ada dua buah batu bata yang terpasang tidak rapi. Ketika mereka bertanya kepada pemiliknya, si Pemilik hanya menjawab bahwa terlepas dari dua batu bata itu ada 998 buah batu bata yang tertata dengan bagus dan rapi.
Cerita ini bermaksud agar kita sebagai manusia yang merupakan makhluk individu dan sosial untuk belajar tidak melihat selalu ke hal-hal yang buruk dari diri kita sendiri dan orang lain. Terkadang karena seringnya kita melihat keburukan dari diri kita, kita cenderung menghukum diri sendiri yang akan mengakibatkan kita sering takut, kuatir, berpikiran negatif dan lain sebagainya. Hal itu juga berlaku dalam kehidupan sosial kita. Padahal kita sendiri sudah tahu bahwa kita tidak sempurna. Maafkanlah diri kita, belajar untuk bangkit, dan melihat tidak hanya selalu dari sisi yang jelek saja.
We are unique from the beginning with bad and good in us, so keep our spirit for the better future! We maybe wrong, but have to learn to make it right next time. What is already happen is the past, what is waiting for us is the future. Life is the way God teach us with lesson, test, final exam, midterm, and remedial. So, do not afraid to be wrong, stay focus till the end.
No trackbacks yet.