Diskriminasi : Kesalahan dari yang terdiskriminasi
Pada hari Minggu lalu saya melakukan perjalanan dari Pontianak menuju Jakarta. Biasanya dalam penerbangan selama satu jam atau lebih, saya hanya melakukan satu hal: tidur. Namun hal itu tidak terjadi dalam perjalanan kali. Well, tadinya. Di dalam perjalanan singkat ini saya terlibat dalam pembicaraan dengan topik yang bervariasi. Lawan bicara saya adalah seorang Bapak yang mengaku sebagai mantan kontraktor bangunan.
Pembicaraan dimulai dari hal-hal ringan. Hingga akhirnya kami menuju pembicaraan yang berat mengenai diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Beliau mencoba untuk menerangkan bahwa diskriminasi terjadi ketika manusia cenderung memilih ego mereka dibandingkan keikhlasan dalam hidup sosial. Perkembangan kehidupan sosial manusia pun meningkat seiring dengan pertemuannya dengan berbagai jenis manusia lainnya. Semakin sering interaksi yang terjadi, kemampuan sosialisasi seseorang akan semakin meningkat. Nah… kembali ke topik utama, diskriminasi terjadi ketika tidak adanya toleransi dan keikhlasan di dalam suatu interaksi sosial.
Beliau mencoba menggambarkan hal itu melalui suatu analogi. Misalkan kita sebagai tamu di rumah teman. Kita tidak mungkin duduk dengan keadaan kaki terangkat. Hal itu akan kita sebut sebagai ketidaksopanan. Inilah yang terjadi pada proses pembentukan diskriminasi. Banyak sekali hal yang terjadi ketika suatu suku datang ke suatu daerah. Kedatangan itu tentu saja membuat perubahan. Namun, pertanyaannya adalah apakah perubahan itu ke arah yang lebih baik ataukah malah ke arah yang lebih buruk?
Adanya anggapan bahwa selama ini diskriminasi terjadi karena salah yang mendiskriminasi. Padahal, tanpa kita sadari, kita sebagai minoritas melakukan hal-hal yang membuat kita mendiskriminasi suku lain tanpa sadar. Salah satu contohnya adalah ketika dalam suatu perbincangan. Saya sebagai suku tionghua yang berkemampuan berbahasa Teochew. Seringkali saya terlupa bahwa pada saat saya berkomunikasi dengan teman sebahasa saya, ada teman yang memiliki keterbatasan dalam bahasa saya tersebut. Ini secara tidak langsung tanpa saya sadari saya melakukan diskriminasi dalam perbincangan sederhana. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya kunci dari mengatasi diskriminasi adalah keikhlasan. Ketika semua orang bisa ikhlas menerima satu dengan yang lain dan tetap menjunjung etika dalam setiap interaksi sosial. Keikhlasan bisa membuat seseorang menerima satu dengan yang lainnya dengan terbuka dan apa adanya. Etika yang menjaga agar keikhlasan berada pada tempat yang seharusnya.
Pembicaraan kami masih berlanjut ke masalah budaya lainnya. Saya memotong hingga di sini karena inilah hal penting yang seringkali terjadi.
Kita cenderung ingin terlihat eksklusif tanpa kita sadari. Inilah yang memunculkan alasan terjadinya diskriminasi. Perbedaan memang masalah. Seperti yang Beliau katakan kunci dari ini semua adalah keikhlasan. ketika kita ikhlas maka masalah tidak akan berkembang menjadi masalah besar. Kita akan dengan mudah memaafkan dan menerima keadaan dengan mudah serta tanpa beban.
Tidak hanya dalam interaksi sosial, namun juga di dalam kehidupan. Ketika kita bisa ikhlas dalam hidup, tidak ada beban yang terasa berat, tidak ada masalah yang terasa sebagai akhir dari dunia, tidak akan ada kemarahan dan dendam. Ikhlas adalah kunci dari hidup damai.
Marilah kita meningkatkan kemampuan kita untuk ikhlas atas hal-hal yang ada dalam hidup. Dimulai dari hal kecil seperti menerima diri kita apa adanya. ^^
No trackbacks yet.