RSS

Category Archives: FaithFullNess

Unselfish Child

I have a junior who is about 2 years younger than me. It is rare to meet him. One day in a holiday, my juniors at his batch are taking a trip to outside city. At that time I think that he will join them, but then I realize that we have appointment to go to a workshop. When he comes to my office, I ask him the reason he does not join his classmates. He answer:

My parents pay for my study fee, so is it okay to ask them pay for my holiday fun also? I think that they have work hard for their duty, i do not want to waste their money for additional fee likes holiday fun.

I am confuse and amaze. He is 20 years old only this year yet he already can think like that. The truth is I am ashamed that I never think like that. I always think that I have work hard and It is OK to take my gift like holiday. After he said that, I wonder what can I do? Maybe this is the lesson I need to learn to appreciate peoples that struggle for my future more. I am really grateful to know him. ^^

Posted using Tinydesk Writer iPhone app

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2012 in FaithFullNess

 

Your iPersonic Type: The Spontaneous Idealist

Spontaneous Idealists like you are creative, lively and open-minded persons. You are humorous and dispose of a contagious zest for life. Your enthusiasm and sparkling energy inspires others and sweeps them along. You enjoy being together with other people and often have an uncanny intuition for their motivations and potential. Spontaneous Idealists are masters of communication and very amusing and gifted entertainers. Fun and variety are guaranteed when you are around. However, you are sometimes somewhat too impulsive in dealing with others and can hurt people without really meaning to do so, due to your direct and sometimes critical nature.

You are a keen and alert observer; you miss nothing which is going on around you. In extreme cases, you tend to be oversensitive and exaggeratedly alert and you are inwardly always ready to jump. Life for you is an exciting drama full of emotionality. However, you quickly become bored when things repeat themselves and too much detailed work and care is required. Your creativity, your imaginativeness and your originality become most noticeable when developing new projects and ideas – you then leave the meticulous implementation of the whole to others. On the whole, Spontaneous Idealists attach great value to their inner and outward independence and do not like accepting a subordinate role. You therefore have problems with hierarchies and authorities.

As a Spontaneous Idealist you are one of the extroverted personality types. You enjoy working in a colorfully diverse group of people who interest and inspire you. Working in a “secluded room” is not your thing. Your sense for the motivation of others is almost eerie. You constantly observe that which happens around you and have no problems noticing all sorts of things simultaneously or communicating with several people at the same time.

Your enthusiasm is contagious to others and that is why your colleagues and friends all appreciate you as an important member of your team. Your articulateness and your sensitive ear for nuances in conversations with others obviously play a role. For you, this team-oriented environment is very important because you need to receive positive feedback and recognition like other people need air to breathe. It would be practically impossible for you to contribute everything you need to maintain your high ideals, by yourself.

Variety, challenges and fun are important ingredients of your area of responsibility. You appreciate receiving new stimulation, meeting new people, and continuously collecting unique experiences. However, too much routine, too much detail work and the necessity to stick with one project for a very long time is not your thing. Your strength are creative problem solutions, discovering new ways and opportunities, the conceptualization of new ideas on one hand, but not so much their concrete implementation on the other. Ideally, you have a staff of capable colleagues that takes over your concepts and runs with them.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2012 in FaithFullNess

 

Diskriminasi : Kesalahan dari yang terdiskriminasi

Pada hari Minggu lalu saya melakukan perjalanan dari Pontianak menuju Jakarta. Biasanya dalam penerbangan selama satu jam atau lebih, saya hanya melakukan satu hal: tidur. Namun hal itu tidak terjadi dalam perjalanan kali. Well, tadinya. Di dalam perjalanan singkat ini saya terlibat dalam pembicaraan dengan topik yang bervariasi. Lawan bicara saya adalah seorang Bapak yang mengaku sebagai mantan kontraktor bangunan.

Pembicaraan dimulai dari hal-hal ringan. Hingga akhirnya kami menuju pembicaraan yang berat mengenai diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Beliau mencoba untuk menerangkan bahwa diskriminasi terjadi ketika manusia cenderung memilih ego mereka dibandingkan keikhlasan dalam hidup sosial. Perkembangan kehidupan sosial manusia pun meningkat seiring dengan pertemuannya dengan berbagai jenis manusia lainnya. Semakin sering interaksi yang terjadi, kemampuan sosialisasi seseorang akan semakin meningkat. Nah… kembali ke topik utama, diskriminasi terjadi ketika tidak adanya toleransi dan keikhlasan di dalam suatu interaksi sosial.

Beliau mencoba menggambarkan hal itu melalui suatu analogi. Misalkan kita sebagai tamu di rumah teman. Kita tidak mungkin duduk dengan keadaan kaki terangkat. Hal itu akan kita sebut sebagai ketidaksopanan. Inilah yang terjadi pada proses pembentukan diskriminasi. Banyak sekali hal yang terjadi ketika suatu suku datang ke suatu daerah. Kedatangan itu tentu saja membuat perubahan. Namun, pertanyaannya adalah apakah perubahan itu ke arah yang lebih baik ataukah malah ke arah yang lebih buruk?

Adanya anggapan bahwa selama ini diskriminasi terjadi karena salah yang mendiskriminasi. Padahal, tanpa kita sadari, kita sebagai minoritas melakukan hal-hal yang membuat kita mendiskriminasi suku lain tanpa sadar. Salah satu contohnya adalah ketika dalam suatu perbincangan. Saya sebagai suku tionghua yang berkemampuan berbahasa Teochew. Seringkali saya terlupa bahwa pada saat saya berkomunikasi dengan teman sebahasa saya, ada teman yang memiliki keterbatasan dalam bahasa saya tersebut. Ini secara tidak langsung tanpa saya sadari saya melakukan diskriminasi dalam perbincangan sederhana. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya kunci dari mengatasi diskriminasi adalah keikhlasan. Ketika semua orang bisa ikhlas menerima satu dengan yang lain dan tetap menjunjung etika dalam setiap interaksi sosial. Keikhlasan bisa membuat seseorang menerima satu dengan yang lainnya dengan terbuka dan apa adanya. Etika yang menjaga agar keikhlasan berada pada tempat yang seharusnya.

Pembicaraan kami masih berlanjut ke masalah budaya lainnya. Saya memotong hingga di sini karena inilah hal penting yang seringkali terjadi.

Kita cenderung ingin terlihat eksklusif tanpa kita sadari. Inilah yang memunculkan alasan terjadinya diskriminasi. Perbedaan memang masalah. Seperti yang Beliau katakan kunci dari ini semua adalah keikhlasan. ketika kita ikhlas maka masalah tidak akan berkembang menjadi masalah besar. Kita akan dengan mudah memaafkan dan menerima keadaan dengan mudah serta tanpa beban.

Tidak hanya dalam interaksi sosial, namun juga di dalam kehidupan. Ketika kita bisa ikhlas dalam hidup, tidak ada beban yang terasa berat, tidak ada masalah yang terasa sebagai akhir dari dunia, tidak akan ada kemarahan dan dendam. Ikhlas adalah kunci dari hidup damai.

Marilah kita meningkatkan kemampuan kita untuk ikhlas atas hal-hal yang ada dalam hidup. Dimulai dari hal kecil seperti menerima diri kita apa adanya. ^^

 
Leave a comment

Posted by on August 8, 2011 in FaithFullNess

 

Yang Terlupakan

Kita selalu menyangka bahwa hidup kita adalah milik kita sendiri, jadi ya sesuka kita apakah kita mau sia-siakan atau kita mau menghargainya. Terlebih lagi, setiap orang ingin menyamaratakan seorang dengan yang lain, padahal itu mustahil. tiap orang kan berbeda baik latar belakang, sifat, pemikiran, dan lain sebagainya. Satu hal yang selalu dilupakan oleh kita adalah latar belakang. Ada apa dengan latar belakang? Latar belakang adalah kondisi awal atau yang sudah lewat sehingga ada saat ini.

Contoh, masyarakat Indonesia mudah sekali melakukan hal ini dan itu pada zaman sekarang. pernahkah ada yang berpikir bahwa, kita bisa sebebas ini dikarenakan siapa? kalau bukan karena nenek moyang kita yang memperjuangkan hak-hak kita, akankah kita sampai pada hari ini?

contoh paling mudah dan yang sedang terjadi adalah setiap kesalahan presiden disorot sedemikian tajamnya sehingga mencucibersihkan pengetahuan akan jasa dari presiden. seperti peribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga. hanya karena kesalahannya maka jasa-jasanya pun tidak dianggap.

Saya senang sekali ketika saya membaca sebuah bab di buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” yang mana memperlihatkan suatu kebenaran yang sering terlupakan oleh kita. Kita menghukum seseorang secara subjektif. misalkan seorang anak yang bertanya kepada ibunya mengenai sesuatu yang bodoh. Sebagian besar Ibu akan memarahi anaknya dengan mengatakan bahwa dia bodoh, padahal yang benar adalah ibu itu memberitahu anaknya bahwa itu adalah pertanyaan bodoh. Jadi, yang harus dibenarsalahkan adalah apa yang dia lakukan, bukannya menyerang pribadi.

Ini realita, kita sering kali menyerang pribadi seseorang. Bersyukurlah kalau orang itu kuat, jika orang itu rapuh, maka matilah kita karena telah mencelakakan orang.

Seringkali perhatian kita teralihkan oleh hal-hal seperti kepuasan pribadi dan kekuasaan sehingga kita merasa di atas angin. Kita pun menyia-nyiakan apa yang telah kita miliki. Kita juga melupakan esensi dari seorang manusia dan jati diri kita. akankah hal ini berlangsung terus-menerus?

Sekarang adalah saatnya kita memutuskan untuk menghargai waktu dan kesempatan yang kita miliki atau menyia-nyiakannya. Waktu berdetik, dan tak ada seorangpun yang dapat menghentikannya. Apakah kita akan terus pikun atau mulai belajar mengingat bagaimana bersikap dan berucap?

 
1 Comment

Posted by on April 7, 2011 in FaithFullNess

 

Unrequited Love

When we heard this kind of words, we will feel sorry for the owner of love. Why? because this is so damn hurtful feeling. but, it is not the point of my article. I have experience it myself. at last, I will say it is kind of beautiful to have this kind of feeling. in the past i keeps worried about my own feeling. why? because I am not sure if i can live with someone for the rest of my life. fortunately, i meet this guy who can erase all doubt about myself. now, I can assure anyone that i love, I can love them for the rest of my life. As I said before, it is unrequited love, so it is no happy ending. ^^

I will share this. I am getting over this situation immediately as i never imagine before. We still being friends and no awkward things between us till this moment. the key is be honest and accept the reality. He knows exactly how i feel but i have made it so clear to him that i am not hoping anything, so he do not have to feel uneasy or awkward around me, so do i. I have live it for a long time and i have no worries at all. In the past I can be a little bit jealous and too sensitive about a simple thing and grows a hope. But, it will not works for me today. I have learn to separate special attraction and common attraction based on people’s uniqueness.

Then, I have see for myself an unrequited love that is a little bit forceful and expecting a lot of ways to reach the lovers. the lovers herself already give a clear statement about how she feels toward he. Instead of keeping he away, he keeps being around. he is being so annoying. Everyday, each time, he will told her how much he loves her. He even try to trap her to a routine together just for spending times beside her. I never say it is wrong but it will be disturbance for her. Instead to grow love, he will grow hate in her heart.

I know, unrequited love will be so painful and beautiful in the same time. But, try to be a sportive player instead to be random player. the difference is a sportive player knows when to keep moving, when to stop and they have their mind and heart in combine to build or to stop their action. in the other hand, a random player will play as their heart please. They will ignore the ethics and morals.

we have to let our heart play but we have to remember our logic too. Life is not just about love but also about rules. Love that is no rules is a pathetic love. Rules makes love in the track, and love is the foundation of the right rules. without love, there is no rules, because of love, we need rules, and because of that rules is a must to obey to keep our love and grow it our heart.

 
Leave a comment

Posted by on March 7, 2011 in FaithFullNess

 

Menghakimi diri dan Orang Lain

pada tanggal 4 Februari kemarin saya menyaksikan Kick Andy. Pada sesi kali ini Josh Pieter dihadirkan sebagai bintang tamu. Josh Pieter didatangkan sebagai salah seorang anak yang dilecehkan secara seksual oleh orang terdekatnya. Pembahasan berlanjut dari Josh, Psikolog, dan ibunda dari Josh. Ada salah satu pernyataan menarik yang saya dengar dari Ibunda Josh. Beliau mengatakan bahwa penghakiman itu berasal dari Tuhan. Beliau sendiri menyadari bahwa dirinya banyak kekurangan jadi beliau pun tidak berhak menghakimi anaknya. Bagaimanapun juga Josh adalah anaknya. terlepas dari sikap buruk Josh yang jatuh bangun di dalam seks bebas dan narkoba, Josh tetap adalah putranya.

Apa yang dikatakan oleh Beliau sungguh amat sangat menyentuh. Kasihnya sangat besar dan tanpa pamrih buat Josh, putranya tercinta. Pernyataan bahwa dirinya juga memiliki banyak kekurangan pun bisa menjadi teladan bagi kita semua. Kita seharusnya menyadari bahwa masing-masing dari kita memiliki kekurangan dan kelebihan. Kesalahan yang kita perbuat pun tidak terhitung jumlahnya. Jadi, pantaskah kita menghakimi orang lain? Sucikah kita dibandingkan dia?

Aku juga sedang membaca buku yang berjudul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. di dalam buku ini ada cerita dimana dua orang tukang bangunan terheran-heran ketika pemilik bangunan menyatakan tembok yang mereka hasilkan bagus jadinya. Bagi mereka tembok itu sangat jelek karena ada dua buah batu bata yang terpasang tidak rapi. Ketika mereka bertanya kepada pemiliknya, si Pemilik hanya menjawab bahwa terlepas dari dua batu bata itu ada 998 buah batu bata yang tertata dengan bagus dan rapi.

Cerita ini bermaksud agar kita sebagai manusia yang merupakan makhluk individu dan sosial untuk belajar tidak melihat selalu ke hal-hal yang buruk dari diri kita sendiri dan orang lain. Terkadang karena seringnya kita melihat keburukan dari diri kita, kita cenderung menghukum diri sendiri yang akan mengakibatkan kita sering takut, kuatir, berpikiran negatif dan lain sebagainya. Hal itu juga berlaku dalam kehidupan sosial kita. Padahal kita sendiri sudah tahu bahwa kita tidak sempurna. Maafkanlah diri kita, belajar untuk bangkit, dan melihat tidak hanya selalu dari sisi yang jelek saja.

We are unique from the beginning with bad and good in us, so keep our spirit for the better future! We maybe wrong, but have to learn to make it right next time. What is already happen is the past, what is waiting for us is the future. Life is the way God teach us with lesson, test, final exam, midterm, and remedial. So, do not afraid to be wrong, stay focus till the end.

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2011 in FaithFullNess

 

Ariel PeterPan

Kalian pasti kenal sama Ariel Peterpan yang sekarang sedang mendekam di penjara dengan vonis kurang lebih 3 tahunan. Fenomena ini terasa rancu bagiku. kenapa?

  1. Pornografi sudah ada jauh sebelum video Ariel beredar (kenapa cuma Ariel yang dihukum?)
  2. ditampilkannya statistik kriminalitas oleh KPAI, yang entah kenapa dijadikan salah satu pertimbangan. (apa hubungannya tingkat kriminalitas seks dengan persidangan Ariel?)
  3. Pengedarnya malah jadi saksi? (undang-undang dibuat percuma dong)
  4. Ariel dihukum penjara? (ga belajar PPKN apa, kalo pelanggaran norma Asusila itu adalah sanksi hati nurani dan sosial?)
  5. Ormas-ormas yang ingin Ariel dipenjara tampaknya kurang kerjaan, (ada dendam kesumat kali ya gara2 Ariel bisa jalan terus ama Luna Maya. ahhahaha….)
  6. Masalah kebebasan seks, itu kan urusan masing-masing pribadi, kenapa hukum dan masyarakat harus ikut campur?

Menurutku penjatuhan vonis Ariel tampak rancu dan tidak wajar. Sejauh ini undang-undang hanya berbicara tentang pengedaran pornografi. Posisi Ariel sendiri sudah jelas tidak mengedarkan tapi malah dijadikan pelaku. Bener2 hebat hukum kita. Pergesaran makna ayat undang-undang tampak terlalu bebas dilakukan. Seolah-olah pihak pengadilan ingin memperbaiki citranya melalui Ariel sebagai tumbal. Yang lucunya ketika pengadilan Ariel berlangsung, Ariel dipaksa untuk mengakui bahwa dirinyalah yang menyebarkan video tersebut. Ketika salah satu pihak penuntut diwawancarai, orang tersebut menyebutkan bahwa tanpa Ariel mengakui pun mereka sudah tahu dan yakin bahwa Ariel-lah yang menyebarkan video tersebut. (cenayang kali yah)

pertanyaan yang muncul adalah kenapa Ariel ingin menyebarkan aib-nya sendiri? dan pihak yang sudah mengakui bahwa dia terlibat dalam penyebaran video tersebut malah dengan gampangnya keluar masuk persidangan, bahkan dijadikan saksi!

Hal yang paling menimbulkan pertanyaan adalah: kenapa cuma Ariel yang dihukum? Padahal banyak sekali pihak-pihak yang melakukan hal seperti yang Ariel lakukan. Contohnya Andi Soraya dengan Steve yang sudah sangat jelas ketahuan tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan, bahkan sudah memiliki anak. Terus kenapa mereka tidak dituntut?

Tentunya ini membuat adanya kesimpulan, pasti ada oknum tertentu yang menginginkan Ariel dipenjara. Entah karena dendam kesumat, ngiri, atau memang tidak suka dengan Ariel. Jadi, yah… semoga Ariel tabah dalam menjalani cobaan ini.

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2011 in FaithFullNess