RSS

Category Archives: LoVeLyAhOlIc

My Willing List and Must Do!

  1. Be close to God, pls… forgive my disobedient. my daily activity that make distance. I promise will keep my faith and keep giving update. ^^
  2. mau mendekatkan diri ke Mama. ini uda berapa kali masuk wish list g tapi belum tercapai juga. T-T ada saran ga??? soalnya g ga tau mesti gimana….
  3. Lulus kuliah dengan IPS dan IPK setinggi mungkin
  4. Bertahan dalam semua kondisi bahkan yang termustahil sekalipun. ga ada kata ga bisa sebelum mencoba sampai titik penghabisan.
  5. Jujur! walaupun tau bakal dimarahin atau apapun itu ga ada yang excuse buat ga jujur!
  6. lebih rapi lagi, Gila aja g jadi ce, ga rapi abiz. tapi yah… paling tidak kalo dibandingkan dengan kaum adam, masih lebih rapilah ^^
  7. Mau belajar berbicara pintar biar ga diremehin lagi, sumpah males abiz hanya gara2 ngom berepotan. hahahha…
  8. Lebih easy going
  9. mau meredam emosi, hahaha… ini yg buat g selalu bad mood n sensian
  10. Work Harder, ga ada excuse refreshing kalo ada kerjaan menumpuk. refreshing si OK kalo kerjaan uda kelar.
  11. My fam is my priority, my friend is my treasure, my job is my responsibility, i had to put all of my effort to hold all of this.
  12. A lot and a lot attention about my health
  13. keep moving forward
  14. Want to be multitasking
  15. catalyst my brain for work harder harder and harder
  16. Belajar bersabar
  17. Hemat… duh ini yg plg parah n malah terlupakan, untung ingat. wkwkwkk…

Dengan semua ini, g berharap bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. ^^

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 10, 2009 in LoVeLyAhOlIc

 

GranPa… Miss You so much….

Ini adalah hal yang paling kusesalkan hingga saat ini. kalau mengingat hal ini yang timbul adalah rasa ingin nangis.
Kejadiannya adalah ketika Akong pulang sesudah dioperasi dengan keadaan sehat walafiat. emang agak memalukan juga sich. waktu itu aku memiliki kebiasaan menyandarkan kakiku di atas meja ketika menonton film. Kakekku mengingatkan aku bahwa itu tidak baik. ya… agak marah gitu. Waktu itu mukaku agak menunjukkan kesebalanku. pas aku mau menurunkan kaki, kakiku menghantam meja. itu benar2 nda disengaja lho. kakekku berbalik dan menunjukkan kemarahan. mungkin beliau mengira aku dengan sengaja memukul meja. Begonya lagi, aku tidak memiliki niatan untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. tidak tahunya itu menjadi kenangan pahit terakhir. mengingat Akong sungguh membuatku sedih dan menyesal. kenapa tidak dari dulu aku mendekatkan diri kepadanya. Waktu yang paling menyenangkan adalah ketika beliau menasehatiku. ngomel tepatnya. dan beliau tau dengan pasti waktu yang tepat jadi aku nda bisa kabur. itu adalah waktu aku sedang makan. ahahha… mau, ngga mau mendengarkan dong. masa’ makanan mau ditinggalkan begitu aja. Setelah mengomel, Beliau akan mengisahkan sebuah cerita. biasanya bahkan lebih dari satu cerita. kapan2 akan kuceritakan.
Sejak kematian Akong, aku menjadi sangat dekat dengan Ama. Aku tidak mau kejadian yang sama kualami lagi. Aku bertekad untuk tidak membuat Ama sedih.
Hal yang dipertanyakan oleh keluargaku, kenapa aku bisa2nya tidak menangis pada waktu Akong meninggal. Teman… menurut kalian apakah aku tidak sedih? apakah aku bisa dengan mudahnya tersenyum dan tertawa lepas tanpa ada alasan?

Akong melalui berbagai penderitaan semasa hidupnya. hidup di jalanan hanya berbekal sehelai pakaian. Beliau sampai2 harus mencuci pakaiannya dalam keadaan tidak berbusana demi pakaian ganti. menunggu baju dan celana kering. belajar dari orang-orang tua sehingga wawasan luas. makan makanan yang tidak layak. begitu banyak penderitaan yang telah beliau lalui. apakah harus aku ucapkan selamat tinggal dengan tangisan yang membuatnya semakin tidak rela meninggalkan dunia ini? yang kuinginkan hanyalah Beliau bisa tenang beristirahat tanpa harus memikirkanku di dunia ini. hanya itu. semarah2 nya beliau kepadaku, setidakmaunya beliau berbicara kepadaku di telepon, aku tahu, beliau ingin aku terbiasa dengan ketidakberadaan Beliau. bukan dikarenakan Beliau benar2 membenciku.

satu pelajaran yang beliau berikan kepadaku: jangan pernah bergantung pada orang lain.

walau begitu besar keinginanku untuk tidak menangis, tapi tetap saja, ketika aku tidur, aku kangen dan merindukan Beliau. sampai pada hari pemakaman, aku sudah benar2 tidak tahan lagi. pada saat itulah aku baru benar2 menangisi kepergian Beliau di hadapan keluargaku. Terserah keluargaku mau mencapku cari perhatian atau cucu tidak baik. tapi yang pasti aku sangat menyayangi Beliau. hingga kepergian Beliau, aku tetap merindukan suara Beliau. Konyolnya ketika menulis tulisan ini, setiap kalimat diiringi dengan butir2 air mataku. kenapa ya aku menjadi melankolis begini. T-T

Beliau la yang mempertahankan aku selama ini. Beliau la yang benar2 peduli kepadaku. Beliau la yang memikirkan diriku dan nasibku. apa jadinya diriku tanpa Beliau.

Blogged with the Flock Browser
 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2008 in LoVeLyAhOlIc

 

Bagaimana dengan Arsip mu???

Cerita ini g dapat dari temen g. Menurut g sich cerita ini bagus banget. tapi, penilaian orang kan beda2. hahaha…

The Room

Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa. “Aku membuat mereka terperangah, ” kata Brian kepada ayahnya, Bruce. “Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang pernah aku tulis.” Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir.

Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County , Ohio .

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga.

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin membagikannya. “Anda merasa seperti ada di sana ,” kata pak Bruce Moore. Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. “Aku pikir Tuhan telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya,” kata Nyonya Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang kehidupan setelah kematian. “Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya.”

Inilah esai Brian yang berjudul “Ruangan”.

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip yang bertanda “Teman-teman yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. “Buku-buku Yang Aku Telah Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”. “Penghiburan yang Aku Berikan”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”. Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: “Makian Buat Saudara-saudaraku” .

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: “Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku. “, “Gerutuanku terhadap Orangtuaku”. Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda “Pertunjukan- pertunjukan TV yang Aku Tonton”, aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”, aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul “Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil”. Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah “Jangan, jangan!” ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku
dan berkata, “Sudah selesai!”

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Jika anda ingin meneruskan pesan ini kepada sebanyak mungkin orang-orang sehingga kasih Tuhan Yesus akan menjamah hidup mereka, forwardlah email ini! Arsip “Orang-Orang yang Aku Bagikan Injil” milikku akan makin bertambah besar, bagaimana dengan milik anda?

Blogged with the Flock Browser

Tags:

 
1 Comment

Posted by on August 10, 2008 in LoVeLyAhOlIc

 

Trip To… Kura2 Beach~~

Prolog…
Hm.. lupa ne tanggal berapa. temen2 sma ku yang masih ingat kapan kita ke pantai kura2, pls beritau g ya. hahaha… moment kan nda boleh terlepas dari kapan terjadinya. tapi tunggu dulu, kek na g agak2 ingat dech. kalo nda salah satu hari setelah ultah na Hehe. hmm… ultah na Hehe kapan ya? bentar… buka buku kenangan dulu.
<membuka buku kenangan>
O ya, tanggal segini ya… berarti trip kelasku ini pada tanggal 3 Juli atau 4 Juli 2006. soalna g ingat banget pas nyariin kado buat Hehe ma Bunge, trip ini sekaligus ngerayain ultah na mereka, aku ngusulin megaphone buat Hehe ketua kelas kami. soalna suarana kalah dengan suara satu kelas kami. hehehe….

The Stories…
di akhir semester 2 kelas XI, kelas ku XI IA 1 merencanakan trip ke pantai kura2 yang ada di daerah antara Singkawang dan Khuntien, Kalimantan Barat. hm… itu kami janjian kumpul jam 5.00 pagi di Ligo Mitra. Hal ini utk mengantisipasi teman2 yang bakalan lelet. saking bersemangatnya, g da nyampe di hum na Fanny sebelum jam 05.00 pagi. Rumah Fanny letakna beberapa meter dari Ligo Mitra. Sesampai ku ternyata Fanny sekeluarga sudah bangun n tengah menyaksikan balap motor F1. jam 05.30 baru kami berjalan menuju Ligo Mitra.
Di Ligo Mitra itu ternyata baru sedikit teman-teman yang uda datang. Bus yang akan kami gunakan juga belum terlihat.
Selama setengah jam berikutnya kami semua sibuk menelepon teman2 untuk memastikan keikutsertaan mereka. hampir kumpul ne semuanya kecuali beberapa orang termasuk Willy. Hehe menelepon Willy berkali-kali tapi tidak ada jawaban hingga akhirnya Willy mengangkat hp na. dia mengatakan bahwa dia dalam pelarian dari preman-preman yang ingin merampok na. kami terkejut dan ketika menanyakan dia ada dimana, dia mengatakan bahwa dia sudah dekat dan dia mau menutup hp na karena capek lari sambil teleponan. tidak lama kemudian dia pun sampai dengan nafas yang tidak karu2an. katanya begitu melihat kami, preman2 itu tidak mengejar dia lagi. hhahaha… terserah pembaca mau percaya atau tidak.
Nah, masalah berikutnya, kami semua da kumpul nih. tinggal satu orang z. n kehadiran na manx sangat kami harapkan. orang itu tidak lain adalah wali kelas kami yang tercinta. Bp. Hendry Bonardi alias Pak Bun. Hehe menelepon na berkali2 tapi tidak dijawab. kami semua mencoba menelepon na tapi nda ada jawaban. Babi menelepon ke rumah na, maklum guru kami yang satu ini masih bujangan. kata orang hum dia ga pulang semalaman. wah… kami langsung pusing. kalo ga salah waktu itu Babi memperkirakan Pak Bun nonton bola d hum temenna ampe nginep. hahaha…. masuk akal juga sich. akhirnya… pas jam 6, Pak Bun bisa dihubungi. Beliau mengatakan kalo dirinya sedang dalam perjalanan menuju hum na. mau mandi dulu katanya. Ok dech, kami memberinya waktu setengah jam. Setengah jam pun berlalu, Hehe kembali sibuk dengan hp na. sedangkan kami semua bercakap2 di dalam bus. jam 7 kurang 15 akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan Pak Bun. Maaf ya Pak Bun… da kelamaan sich. T-T. Untungna, beberapa saat setelah bus kami jalan, Pak Bun menghubungi Hehe dan menanyakan keberadaan bus kami, Hehe pun meminta Pak Bun untuk ke lampu merah yang di perempatan Tanjungpura dan Imam Bonjol, kami akan menunggu Beliau di sana. Setelah bus berhenti, satu menit kemudian Pak Bun muncul dan kami pun melontarkan sejumlah keluhan, kritikan, dan juga lelucon2. hahaha… rasain tuch. padahal hari sebelumna Beliau yang memperingatkan kami supaya tidak lelet. senjata makan tuan. hahaha….
dalam perjalanan, kami berhenti untuk istirahat dan makan bareng. di tempat makan ini terdapat banyaaaak sekali ikan lele. tapi, sayangnya g ga bgt suka makan pecel lele. jadi makan yang biasa z. baru habis itu kami berangkat lagi. di dalam bus kami bercerita2, ada bernyanyi, ada yang tidur, ada yang foto2 (yang ini narsis2. :)) ), dan ada yang makan2 (kelompok rakus).
Ketika kami sampai di tepi pantai, kami menyangka itulah tempat tujuan kami. Tapi ternyata, tujuan kami masih jauh dan harus ditempuh dengan jalan kaki. Hehe dan Bunge sengaja memesan bagian pantai yang sepi dan ada pondok na.
Berjalan kaki sich tidak ada salahna. tapi panas na itu lohh…. ;( setimpal sich ama perbincangan di perjalanan. hahaha… jadi nda boleh ngeluh.
Sesampaina di tempat tujuan, awalnya kami kan sudah nyiapin kelompok n harta karun, tapi akhirnya nda jadi maen dech. susah juga sich, da pada mikirin masuk ke laut. hahaha… jadi kami pun berganti pakaian dan menuju ke laut. pssst… yang narsis tetap dalam pose foto2. hahahha….
Ini pertama kalinya g ke pantai masuk ke laut. soalna g ga bisa berenang. huhuhu… tapi gpp. teman2 membentuk lingkaran dengan saling berpegangan tangan sehingga tidak ada yang terhanyut apalagi yang kecil2 kek g. hahaha…. pokokna menyenangkan banget. Nah, pada sesi main pasir, Marvin alias Pipin meminta kami untuk menguburnya dengan pasir. kami pun beramai2 menguburnya dengan pasir tapi tentu saja tidak bersama dengan kepalanya. bisa2 kami mencabut nyawa anak org. nguburin idup2 lagi. kejam sekali….. ih….
Pak Bun yang memulai lelucon yang maap sekali harus di sensor. hahaha… yang bagian ini just keep in our memory la. ga usa disebarluaskan. Pipin menceritakan kisah hidup na sebagai penyu. ada fotonya lho. sayangnya pas HDD g rusak, hilang de datanya. T-T jadi, ceritanya Pipin dalam pasir itu adalah anak penyu yang berjuang untuk keluar dari dalam pasir. mula-mula sedikit gerakan tidak kuat menghancurkan pasir di atasnya. tetapi semakin lama kekuatan itu semakin besar…. tangan penyu mulai keluar disusul kakinya dan akhirnya seluruh tubuh penyi itu berhasil keluar dan bergerak menuju laut. hahaha…. lucu banget dechhh….
Beralih ke gadis2 yang berada dalam pose foto2. ada yang menirukan putri duyung dll. hahha… seru dech pokokna. kami main ampe beberapa jam. n…. ada peristiwa sampingan lo di perjalanan kali ini. Bagi Fanny, Sulis, Tiara, Devin, dll yang mengetahui na, jangan disebarkan ya. cukup untuk diingat z. hahaha…
Setelah puas main di pantai, kami menuju gubuk. di situ ada 2 kamar mandi n 2 kamar. jadi kami bagi menjadi sama rata. 1 kamar dan 1 kamar mandi untuk co n begitu juga untuk ce. Yang menunggu giliran membersihkan diri, bermain UNO yang kartu di depan. hahaha…. g sempat motret Pak Bun lo. hahaha… gayanya sok cool banget. Ada foto Hadsu yang menggerakkan tangannya sehingga terlihat seperti sayap yang sedang bergerak. keren dech.
O ya kami juga makan2 lo. kan ada dua cukong. hahaha…
kira2 jam 4an gitu kami mutusin untuk balik hum. sebelumnya tentu z foto2 dulu dnx. hahaha… baru setelahnya kami jalan menuju bus dengan berjalan kaki tentunya sambil bercanda dan ngobrol.
Di dalam perjalanan k hum, di dalam bus, tiba2 terlintas pikiran untuk trip ke Pulau Temajo. diusulin ma temen2. awalnya banyak yang setuju. tapi akhirnya banyak yang berubah pikiran karena gosip na, tempat itu kurang bersih alias ya…. agak horor dikit. selain itu kami kan da jalan2 k pantai, nda mgkn ortu langsung ngizinin k tmpt kek gt. g juga blm tentu diizinin ma Akong n Ama. jadi… y uda la. g sich terserah z. hahaha…
Pulang Hummm dengan perasaan yang sangat amat sangat senang n gembira serta puas banget.
jadi kangen ma kalian my senior high school friend.
Miss U!!!!

Epilog
bagi2 foto yang pas SMA dnx. bagi yang lengkap kek Devin, Tiara, Fanny, Sulis, dkk. 🙂

Blogged with the Flock Browser
 
Leave a comment

Posted by on August 10, 2008 in LoVeLyAhOlIc

 

Mobil Jalan sendiri????

Kejadian ini g alami waktu lagi jalan-jalan dengan Devin, Mei-mei, dan Eddy. ceritanya gini, dalam perjalanan pulang setelah hang out beberapa jam, kami memutuskan untuk membeli martabak mandarin. Martabak ini terkenal sangat enak, n g juga mengakui na sich. hahahha… Jadinya Devin markirin mobil na dech. Parkirnya dalam posisi paralel, sejajar dengan jalan tapi di tepinya jalan tentu saja. Setelah memesan, kami ngobrol di depan gerobak martabak tersebut dg posisi Devin menghadap jalan. nah…. mobil na Devin itu cuma terlihat moncong na z dari tempat Devin. pada saat kami keasyikan ngobrol, sedikit gosip tentang guru, tiba-tiba mobilna Devin bergerak maju. Devin yang pertama menyadarinya. saking panik n tegangna d cuma bisa nunjuk-nunjuk. selama beberapa detik baru setelah itu dia mengatakan – setengah berteriak – , “i kai chia ka ki nang kia a!” (artinya: mobilnya jalan sendiri!). serentak kami yang awalna kebingungan langsung melihat ke mobil na Devin. dan ternyata benar. mobil itu bergerak maju. hampir z kami mau menahan mobil dari depan, kami sudah dalam posisi menuju ke depan mobil. ternyata, di bagian belakang mobil itu ada tukang parkir. Tukang parkirna bilang, ” De, ada mobil yang mau masuk.”
Dengan kelegaan hati, dan perasaan konyol, kami pun tertawa bersama-sama. ahahha… ane2 z. Mungkin kualat kali ya gosipin guru kami. hahahaha…

Blogged with the Flock Browser

Tags:

 
Leave a comment

Posted by on August 10, 2008 in LoVeLyAhOlIc

 

Met Jalan Pak Mau

Frens…
bagi yang tidak pernah menginjakkan kaki na ke SMA g, St. Peter Senior High School, tidak bakalan kenal dengan yang namanya Pak Mau (dijamin!). hahahha….

Nah… sekarang…
Pak Mauludi telah berpulang sisi na Tuhan. T-T tepatnya tanggal 3 Mei 2008 jam 07.00 pagi.

sedih de pkkna pas pertama kali denger kabar itu. pdhl tiga hari sebelum Beliau meninggal, g masih ada ngomong ama beliau via telepon. kedengaranna Beliau uda agak baikan. ternyata…

daripada g bersedih2 ria…
mending g nulis z d kenangan g tentang beliau.

Yang paling g inget.
hahaha…

Beliau adalah guru yang narsis!
Pernah Pak Mau ngaku2 saudara na Mau Zhe Dong (ga tau d tulisan na benar pa ga :)). Awalnya kami satu kelas (XI IA 1) pada bingung semua. g juga bingung tapi… akhirnya connect juga. heheheh… pintar kan g. wkwkkwkw… tapi karena ada sebagian kami yang masih belum menemukan jawabannya, akhirnya beliau menulis nama na Di Papan Tulis:

MAULUDI

MAU LU DI

terus beliau meminta kami membaca na sesuai dengan bacaan mandarin. hahahha…
dasar… emanx guru yang narsis abiz.

belum lagi d mengatakan kepada kami, jika Pak Bun (salah satu guru kami yang masih membujang n lumayan diidolakan, padahal sich… kesan pertama g ya… wajah na mirip SNAPE. Maap ya Pak. hehhehe…) jalan bareng dengan dirinya, Pak Bun akan merasa minder. soalna Pak Mau lebih banyak penggemarna. swt. hahhaha…

Pdhl, kalo dipoling, mungkin jumlah na sama kali.

trus…
Beliau adalah orang yang paling bosen dengan anak2 nerd.
Suatu kali,
Beliau masuk ke kelas kami. dan beliau langsung berbicara panjang lebar yang intinya Beliau sungguh sangat bersyukur dan lega karena kami bukanlah kelas yang sama dengan kelas (maaf, bukannya menyombong) pintar yang sebelum2 na. heheheh…
di satu sisi, kalo beliau meninggalkan kelas kami karena ada urusan, beliau tidak akan merasa bersalah n ga perlu gimana mengajar kami bahkan beliau masuk ke kelas kami hanya untuk bergosip. wkwkkwk…
wah… kami ngerasa bangga banget dech.

trus…
Beliau Jarang Mengajar di kelas kami.
Hal ini dikarenakan menurut Beliau, yang kami perlu kami ketahui sudah kami ketahui. hahahha…
jadinya setiap kali Beliau masuk ke kelas kami, Beliau akan mengajak kami membicarakan hal2 yang menurut Beliau penting untuk kami ketahui walaupun agak bokep yach.
cth:
Ce yang badannya mungil biasanya sangat kuat dalam … (You know I know la…)
Ce yang kuat makan cabe juga.

Dan Beliau juga pernah mengingatkan kami bahwa lingkungan yang aman tidak akan selalu memberikan kami kebaikan. justru dengan adanya resiko, bertambahnya pengalaman, itulah yang terpenting. Bosen sich hidup di jalur yang aman2 z. hahahhaha….

Trus…
Beliau senang ama yang namanya fotografi.
hahahha… percaya la. Foto2 hasil karya beliau sungguh sangat memukau. kami z ampe kekagum2.
hahahha…

Trus…
mnrt Beliau cara belajar Bahasa yang tepat adalah: mendengar, merekam, dan meniru.

Trus…
Impian beliau adalah tinggal di suatu pulau yang berada di kepulauan pasifik dimana isi dari pulau itu adalah ce semua! hahahha… belum kesampain tuh Pak.

Trus…
Beliau adalah guru yang paling asyik di sma g. jadi ngerasa kehilangan ne…

T-T
Bye bye bye Pak Mau Lu Di. We will miss You so much…

bye bye bye bye bye bye bye bye bye bye bye

Blogged with the Flock Browser
 
1 Comment

Posted by on May 12, 2008 in LoVeLyAhOlIc

 

Jurit Malam??? Seru ne…

Ini cerita uda hampir setaon.

tapi masih seger banget ne di ingatan g.

Pada tanggal xx, bulan xx, tahon 2006 (kalo ga salah sich).

km (anak IA 1 St. Peter High School Ptk) retreat untuk terakhir kalinya. kata Kakak kelas sich seru n tegang abis. soalna ada Jurit malem. cerita na pada ngeliat yang seharusnya tidak diliat. ya… you know I know la ap itu. hehehe…

Kata2 na sich ada yang ampe pingsan, masuk got, pucat, dll. Ampe ada anak2 seangkatan yang takut mauu ikut retreat. Tapi tentu z itu tidak berlaku untuk kelas ku. hahaha… terlalu sering ntn film horor sichh…

P.S. Tiap kali kalo pas liburan n ga ngapa2in, kami ngumpul d hum na Poppy (ada LCD n layar gede) buat nonton film horor n bbq an bareng. Seru abis d.

nah… kita skip z d acara hari pertama langsung ke malem na. Sebelum mulai jurit malem na, kami diingatkan bahwa mungkin kami akan ketemu ma binatang hutan, yah… kami cuma diminta untuk tidak mengganggu binatang hutan itu z jadi kami mesti hati2 jalan. jangan ampe ada yang digigit ular. Trus kalo ktm hal2 yang aneh, kami mesti teriak PASTORRRR!!!! dalam hati juga gpp. soalna Pastor na punya indera keenam – katanya sich.

kami pun dibawa ke tempat yang sudah ditentukan.

Nah…

The Truth is, g takut terjadi apa2 ama Tiara. Kalo g sich malah semangat. abizna ini acara yang paling g tunggu2. pas akhirnya giliran g, g deg2an banget. hahahha… bukan karena takut lo, g tegesin lagi yach. tapi karena g excited banget. nah… g gambarin denah na dech. ga tau de bener pa ga. pokokna sesuai dengan jalur yang g lalui n seingat g dech. hahahah…

Denah Retreat

Nah… perjalanan ku dimulai dari garis START. dari START ke Gerbang, tidak ada petunjuk Lilin, yang ada hanyalah lampu senter dari penjaga gerbang yang memberitahu g dimana gerbang na berada. sedangkan dari gerbang ke post 1, g hanya diberi tanda dengan lilin yang dipisahkan dalam jarak yang agak jauh namun masih bisa ditangkap oleh mata g.

deg deg deg deg

ketika nyampe d x, g ngeliat sesuatu yang sangat aneh tapi nyata. nih gambar na:

What is This???

Awalnya kupikir itu buah. tapi… ketika aku hambir berada di bawahnya, tiba2 buah itu naik dan menjadi…

Tapi… kawan, sungguh g masih ga kepikiran itu apa. g masih mengira bahwa itu suster kami yang mau mengerjain g. tapi…

memang na ada manusia yang bisa duduk di ranting yang kecil??? ga masuk diakal!

separuh jalan ke post 1, g baru menyadari na. swt d. g sich lumayan ketakutan. JUJUR! tapi… g ga mau nyerah gitu z. akhirnya g terusin z perjalanan g dengan hanya fokus ke lilin. g masih sempat ngeliat ada pocong d sebelah kanan g, ya iyala keliatan. putih dalam hitam. wkwkwkkw…. tapi itu si pasti cuma tipuan punya. sesampai d post, ada semak2 yang bergerak2. tapi ya ampun… Kakak pembina g yang satu ini ga bisa bersembunyi dengan lebih baik ya…

hahhaha…

ketahuan banget soalna.

hahhahah…

dari post1 itu uda masuk ke Hutan. tuntunan awal dari pos adalah tali. di sini kami harus berhati2 dengan makhluk hidup seperti ular dkk. g ga mengalami kesulitan di sini. lalu kembali ke jalan yang dituntun oleh lilin (masih di hutan). di sini g jatuh ke jurang yang pertama karena terlalu fokus ke lilin. Rintangan di sini:

1. Pocong yang bergelantungan makin banyak

2. Ada yang ngelempar barang setelah jurang 1 ( ga tau d, ulah Pembina atau ada… ihhh…)

3. pilihan jalan yang satu buntu, yang satu na lagi ga. Ini g ga salah pilih. hahahha…

Selain jurang, jalan sampai ke tempat tujuan g tidak mengalami banyak kesulitan. hahahha… sewaktu di jalan, g sempat denger ada teman yang teriak. ga tau d siapa. tapi.. yang pasti… hahahha…

Pembina na pasti ngakak. hehehhe…

O ya… di aula g hampir dikagetin lo ama temen2 yang duluan. tapi.. g ga kena. wek… cupu si teman2. hahahha…

kami yang uda duluan nyampe diminta untuk menulis kesan n pesan juga saran. hehehhe…

setelah itu kami ngagetin teman yang baru mau nyampe. hahahha….

Pokokna seru d.

Ending…

Ternyata Tiara tidak lecet sedikitpun! n bahkan d jalan dengan santai banget. ga nyangka g. hahahha…

Ketakutan z kagak. hahahha…

Samantha sempat tidak menemukan jalan ke aula. padahal aula na ada di depan matanya dia. ga tau d kenapa. ampe kami kasih tuntunan arah z masih perlu waktu yang agak lama. hahahha…

g ma teman2 yang ada di aula mendengar teriakan Pipin. tapi ketika dia sampai, d menjawab kami kalau dia tidak berteriak. pdhl kami sudah ngakak sebelum dia datang, dan kami tahu, itu pasti dia.

setelah menulis pesan dan kesan, Pipin bercerita bahwa Sulis berteriak n ketakutan (pdhl menrt versina Sulis, Pipin yang seprti itu). ga tau d sapa yang benar. hahahha….

Bella dan Asmaranto…

Mereka berdua jalan lebih dulu dibandingkan g. di jalan, g sempat mendengar teriakan Bella. Bella n Lanto dicegat. karena jalan berdua. hahahha… jangan mikir macam2 dulu. bukannya pacaran tapi kan peraturan jurit malam: harus jalan sendiri2!

ga seru la kalo jalan berdua. hahahhaha…

eh, tapi… jangan2 pacaran ya pas jurit malam?? 😛

Kalo mengingat2 lagi… g jadi pengen jurit malam lagi dech. tapi minus ketemu yang di atas ye…

hehhehe….

g ga ganggu, jangan ganggu g yach.

thx.

Blogged with the Flock Browser
 
1 Comment

Posted by on May 11, 2008 in LoVeLyAhOlIc